Menya, Pensiunan Anjing Penjaga yang Manis dan Tangguh

Menya, Pensiunan Anjing Penjaga yang Manis dan Tangguh

Posted on 12:18 - 04 Dec 2020
Cornila Desyana Cornila Desyana Penulis dan Penyuka Binatang

Dalam beberapa tahun terakhir, saat paw friends berkunjung ke gedung perkantoran atau pusat perbelanjaan, bisa jadi sering melihat anjing penjaga dengan tampang sangar, ya. Sebagai penyayang anjing, pernahkah paw friends terbayang bila suatu saat nanti mengadopsi anjing pensiunan penjaga? 

“Wah, memangnya anjing penjaga bisa pensiun? Memangnya mereka bisa diadopsi?” Mungkin itu pertanyaan yang muncul di pikiran paw friends

Untuk kedua pertanyaan itu, jawabannya iya. Ya, anjing penjaga bisa pensiun, layaknya kita saat sudah tua nanti. Biasanya, pensiunan anjing penjaga itu akan dilepaskan untuk diadopsi. Tapi bila tidak ada yang mengambil, bisa jadi mereka memperoleh suntikan mati, karena usianya yang sudah cukup tua.

Menjadi anjing pensiunan dan berharap ada yang mengadopsi, itulah yang terjadi pada Menya. Sebagai anjing ras Labrador retriever, Menya pensiun dari profesi penjaga gedung saat usianya sekitar 7 tahun. Bersama beberapa anjing pensiunan lainnya, Menya ditawarkan untuk diadopsi.

Adalah Pritty Pryadnyani (34), seorang pecinta anjing, yang akhirnya mengadopsi Menya. “Ketika itu, saya lihat posting-an di sebuah media sosial kalau ada  adopsi anjing pensiunan,” kata Pritty ketika dihubungi paw Indonesia, 17 Februari 2019. 

Saat datang ke tempat pengadopsian, Pritty melihat ada banyak anjing. Rerata anjing tersebut sudah didekati oleh calon pemiliknya. Namun Menya terlihat sendiri dan diam saja. 

“Menya manis, dia tidak seperti anjing penjaga yang galak,” kata Pritty. Juga karena tidak ada yang mengambil Menya, Pritty pun mengadopsinya. “Saya tidak tega membayangkan dia tidak ada yang mengadopsi, dan nantinya malah disuntik mati.”

Pritty pun membawa Menya pulang. Lagi-lagi, Menya tak menunjukkan sikap seperti anjing penjaga yang garang. Di mobil dan saat sampai di rumah Pritty, Menya terlihat cukup tenang dan mudah beradaptasi. “Dia tidak banyak menggonggong, bahkan cenderung malu. Kalau ada orang baru, Menya akan bersembunyi,” cerita Pritty.

Menya, pensiunan anjing penjaga gedung
Photo credit: Pritty Pryadnyani

 

Menya dan keluarga baru

Di rumah Pritty, Menya bukan anjing satu-satunya. Ada juga Latte, anjing kecil yang sepertinya campuran Chihuahua dan Affenpinscher. Berbeda dengan Menya yang anteng, Latte cukup berisik. Hampir tidak ada waktu Latte berhenti menyalak, kecuali ia sedang tidur. 

Bersama Latte, Menya sangat suka. Tapi tidak bagi Latte, anjing yang tergolong mandiri. Kata Pritty, Latte sering kesal bila Menya mengikutinya. “Mungkin karena Latte merupakan anjing jantan, jadi risih kalau diikuti terus,” kata Pritty.

Di sisi lain, Latte sering menjahili Menya, seperti merebut dan menghabiskan menu makanan Menya yang berupa daging ayam rebus. “Malah kadang-kadang, Latte sengaja menghabiskan makanannya buru-buru, lalu mengambil makanan Menya,” kata Pritty. Kalau sudah begitu, Menya akan mengalah dan pergi, membiarkan Latte menghabiskan makanannya.

Soal makanan, Menya memang mau mengalah dengan Latte. Tapi soal mencari perhatian Pritty, itu lain hal. Dengan Pritty, Menya akan sangat manja. Ke mana saja Pritty pergi, ke kamar tidur, dapur, atau ruang tengah, Menya selalu mengikutinya. 

“Menya maunya dekat-dekat dan selalu minta dielus,” kata Pritty. “Mungkin karena dulu biasanya di lapangan, kerja terus, sekarang baru merasakan jadi anjing rumahan dan ada yang sayang, jadinya manja.”

Saat ditanya apakah Latte tidak cemburu dengan Menya yang manja, Pritty menjawab, ” Enggak, tuh. Latte cuek aja. Mungkin karena dia anjing yang mandiri, ya…”

Menya, Latte, dan Pritty
Photo credit: Pritty Pryadnyani

 

Menya dan kesehatannya

Setelah beberapa tahun tinggal dengan Pritty, kesehatan Menya mulai terlihat menurun. Pritty bercerita, ada satu ketika Menya hanya diam saja, dan sesekali jalan sambil tertatih. 

Saat Pritty membawanya ke dokter hewan, Menya terdiagnosis mengidap tumor di bagian panggul. Saat itu, dokter tidak menyarankan Menya untuk dioperasi. Pertimbangannya karena usia Menya dan kondisi tubuhnya yang sedang turun. 

Alternatif yang dilakukan dokter adalah akupuntur. “Setiap dua pekan sekali, selama enam bulan, Menya menjalani akupuntur di dokter hewan,” kata Pritty. Selain itu, Menya juga harus konsumsi obat herbal. 

Selama tiga minggu pertama, Menya benar-benar tidak bisa berjalan. Tapi dengan rutin menjalani terapi, perlahan Menya bisa jalan lagi, meski masih perlahan. Setelah enam bulan terapi, barulah Menya dapat kembali berjalan dengan cukup normal.

Walaupun kesehatannya menurun, Menya tetap anjing yang tangguh
Photo credit: Pritty Pryadnyani

 

Masa tua Menya

Menya kini berusia 11 tahun, atau 72 tahun di umur manusia. Usia yang jauh dari kata muda.

Di usia lanjut ini, Pritty menemukan bila Menya punya beberapa penyakit. Salah satunya tumor kulit. “Hasil pemeriksaan dokter, ada banyak sekali titik tumor di kulit Menya,” kata Pritty. “Mungkin karena dia dulunya sering di lapangan, kena matahari terus.”

Dari pemeriksaan itu, Menya pun menjalani operasi pengangkatan tumor kulit. Selain itu, dokter juga melakukan sterilisasi pada Menya. Untuk menjalani serangkaian operasi, Menya harus menginap selama empat hari di klinik. Kenyataannya, ia dipulangkan pada hari ketiga, karena sama sekali tidak mau makan selama di sana.

Saat Pritty membawa Menya kembali pulang ke rumah, ternyata ia mau makan, dan lahap. “Ternyata dia cuma home sick,” kata Pritty. “Atau bisa jadi dia takut ditinggal pergi dan ditelantarkan.”

Selama beberapa hari setelah pengangkatan tumor kulit, Menya harus mengenakan baju. Sebetulnya Menya sendiri tidak suka memakai baju. Tapi itu tetap dilakukan Pritty agar Menya tak selalu menjilati luka hasil operasinya. “Biar lukanya cepat kering dan sembuh, jadi Menya pakai baju,” ujar Pritty.

Penyakit lainnya, Menya mengalami osteoporosis. Dari pemeriksaan dokter, bantalan pada engsel kaki Menya sudah keropos, itu sebabnya dia sering merasa ngilu. Dokter pun melarang Menya untuk olahraga berat dan terlalu sering naik turun tangga.

Tapi karena selalu ingin dekat Pritty, Menya tetap naik-turun tangga untuk mengikutinya. “Menya memang manja dan manis,” kata Pritty. “Tapi sebagai pensiunan anjing penjaga, Menya sangat tangguh, bahkan tidak pernah rewel saat lagi sakit.”

 

Photo credit main image: Kristian Egelund (Unsplash)

 

Profil Penulis

Cornila, ibu dari dua putri dan satu putra, yang juga sibuk sebagai parent dari lima kucing, dua kelinci, dua kura-kura brazil, satu ikan cupang, dan dua ikan mas.

scroll to top