Cerita Pet Rescuer di Sejumlah Negara Saat Pandemi Covid-19

Cerita Pet Rescuer di Sejumlah Negara Saat Pandemi Covid-19

Posted on 13:18 - 21 Sep 2020
Cornila Desyana Cornila Desyana Penulis dan Penyuka Binatang

Pandemi Covid-19 dari awal tahun 2020 membuat hantaman cukup besar bagi masyarakat dunia. Keputusan lockdown kota atau pembatasan sosial berskala besar yang dikeluarkan sejumlah kepala negara atau daerah. 

Pembatasan sosial pun mempengaruhi pergerakan masyarakat, bahkan perekonomian dan pendapatan mereka. Yang secara tidak langsung juga berdampak pada kondisi hewan peliharaan maupun hewan-hewan yang tinggal di jalanan. 

Dan beginilah cerita para penyelamat binatang atau per rescuer, di sejumlah negara, yang berusaha membantu asupan makanan anjing dan kucing, juga menolong pet parents yang tidak bisa keluar rumah atau merawat hewan peliharaannya sendiri.

 

Ye Jialin periksa apartemen kosong untuk beri makan hewan yang ditinggal pemilik

Pandemi Covid-19 yang merebak pada akhir 2019 di Kota Wuhan, China, memaksa otoritas pemerintah kota itu mengkarantina wilayahnya pada 23 Januari 2020. Penduduk dilarang keluar-masuk Kota Wuhan. Untuk kebutuhan harian, mereka harus memesan via kurir. Sementara mereka yang punya kebutuhan mendesak, bisa keluar rumah dengan izin tertulis dari pemerintah setempat.

Kondisi ini sontak membuat Kota Wuhan seperti kota mati. Dalam video yang disiarkan The Guardian, digambarkan Wuhan seperti dalam film yang menceritakan tentang hari kiamat.

Pecahnya pandemi Covid-19 di Kota Wuhan itu sendiri terjadi saat menjelang Tahun Baru Imlek. Sehingga sejumlah keluarga dan mahasiswa tengah meninggalkan rumah atau apartemen mereka, dan berada di kota lain tanpa bisa masuk kembali ke Wuhan.

Awalnya, mereka tidak berencana keluar kota dalam waktu lama. Sehingga hanya menyiapkan makanan dan minuman untuk hewan peliharaan untuk beberapa hari saja. Karantina ini juga membuat sekitar 30 ribu hewan peliharaan terlantar di kota itu.

“Kondisi ini membuat saya tergerak membantu pemilik hewan, untuk mengecek kondisi hewan peliharaannya,” kata Ye Jialin, penduduk Wuhan yang bersedia menjadi rescuer, dalam video yang dirilis The Guardian, 14 Februari 2020.

Kepada pemilik hewan peliharaan, Jialin mengajukan diri untuk mendatangi tempat tinggal mereka, guna mengecek kondisi kucing atau anjing di sana. “Yang pertama saya lakukan di sana adalah mengecek keberadaan hewan peliharaan itu,” kata Jialin. “Saya tidak takut keluar rumah saat pandemi. Yang saya takutkan, datang terlambat ke rumah pemilik hewan, dan kucing atau anjingnya terluka, sakit, atau sudah mati.”

Ye Jialin, berkeliling rumah warga Wuhan untuk memberi makan dan minum anjing atau kucing peliharaan di masa pandemi Covid-19
Ye Jialin, berkeliling rumah warga Wuhan untuk memberi makan dan minum anjing atau kucing peliharaan di masa pandemi Covid-19
Photo credit: The Guardian

Di salah satu flat, Jialin harus memeriksa keberadaan dua kucing. Sayangnya, dia hanya bisa menemukan satu. Turun ke pos penjaga flat, Jialin menanyakan ke penjaga mengenai keberadaan kucing yang menghilang dari unit yang ia tuju. “Beberapa hari lalu, kucing tersebut jatuh dari balkon dan mati,” kata penjaga pos kepada Jialin.

Usai memberi kabar ke pemilik flat, Jialin melanjutkan tugasnya dengan memberikan makan dan air minum untuk kucing satunya. Tak hanya itu, ia juga membantu par parents dengan membuang kotoran kucingnya, dan mengganti pasir di kotak litter. “Di dalam flat, saya juga perlu menjaga kebersihan agar tidak membawa kuman dari luar, dengan membungkus kaki saya memakai kantong plastik dan tetap memakai masker,” kata Jialin.

Ye Jialin sadar apa yang dilakukannya hanya hal kecil. Namun menurutnya, hal sekecil apapun yang bisa membantu masyarakat di masa sulit, seperti pandemi Covid-19, ini sangatlah penting dan berharga. “Bantuan kecil sekalipun akan terhitung dan membantu kita melawan pandemi Covid-19 ini,” kata Jialin.

 

Chen, menampung puluhan kucing dan anjing selama pandemi Covid-19

Masih dari Wuhan, seorang sukarelawan Furry Angels Heaven, Chen (bukan nama aslinya), merawat sekitar 36 anjing dan 29 kucing, di apartemennya. Tindakan ini ia ambil sejak wabah Covid-19 merebak di Wuhan.

Di situs berita Time, Chen bercerita bila ia menampung anjing dan kucing yang terlantar di jalanan. Ia juga banyak membawa hewan peliharaan dari toko maupun rumah yang ditinggalkan pemiliknya.

“Saya harus menggunakan nama samaran di wawancara ini, agar tidak didatangi polisi,” kata Chen. Keputusan itu dilakukannya, sebab Pemerintah Wuhan hanya mengizinkan satu anjing per satu unit apartemen. Kehadiran puluhan anak bulu itu tentu membuat ramai apartemen Chen. Hingga beberapa kali tetangganya mengeluh dan melapor ke polisi. 

“Untungnya ada seorang polisi yang selalu memberitahu saya kalau akan ada penggerebekan,” kata Chen. “Jadi saya punya waktu untuk menyembunyikan hewan-hewan saya di mobil.”

Sebagai satu cara pencegahannya penyebaran wabah Covid-19, Chen mengatakan bila polisi akan membunuh hewan peliharaan yang tinggal dengan penderita virus tersebut. “Tapi pernah juga ada polisi yang memberikan saya dua ekor anjing, karena tidak tega membunuhnya,” ujar Chen.

Dalam mengurus puluhan hewan itu, Chen memiliki beberapa kekhawatiran. Mulai dari persediaan stok makanan yang sewaktu-waktu bisa menipis, atau petugas kepolisian yang mendadak datang dan menemukan semua anak bulunya.

“Terutama, saya takut jika saya tertular virus Covid-19, maka anjing dan kucing saya akan dibunuh,” katanya.

 

Pemerintah Turki dan Yunani bantu pasok pakan untuk anjing dan kucing jalanan

Seorang anggota pemerintah Kota Metropolitan Istanbul memberi makan anjing liar di masa pandemi Covid-19
Seorang anggota pemerintah Kota Metropolitan Istanbul memberi makan anjing liar di masa pandemi Covid-19
Photo creditThe Jakarta Post (AFP/Ozan Kose)

Menurut situs The Jakarta Post, terlantarnya kucing dan anjing jalanan juga terjadi di belahan Benua Eropa. Bila biasanya kucing dan anjing jalanan memperoleh makanan dari pejalan kaki atau pengusaha restoran, karantina kota membuat mereka sulit mendapatkan makanan.

Kondisi ini membuat pemerintah di beberapa negara Eropa mulai menyadari perlunya dana khusus untuk pakan anjing dan kucing jalanan. Seperti yang dilakukan otoritas Istanbul, Turki, yang setiap hari mendistribusikan sekitar satu ton makanan untuk kucing dan anjing jalanan.

“Sebelum pandemi coronavirus, secara berkala kami memberi makan anjing dan kucing jalanan,” kata Tayfun Koc, seorang pekerja pemberian makan Kota Istanbul, kepada AFP. “Begitu juga sekarang. Warga tetap di rumah, dan kami akan mengurus teman-teman kecil kita." 

Hal serupa juga dilakukan Pemerintah Kota Athena, Yunani. "Selama karantina kota, kami memastikan bahwa semua anjing memiliki makanan yang cukup sehingga mereka tidak kelaparan dan menjadi agresif,” kata Serafina Avramidou, penasihat kota Athena untuk kesejahteraan hewan. “Kami pun mulai memasang pemberitahuan di berbagai wilayah kota untuk memastikan bahwa anjing dan kucing diberi makan secara teratur.”

 

Jasa transportasi hewan peliharaan di masa Covid-19

Lain cerita di Jakarta. Untuk membantu paw parents membawa hewan peliharaan ke klinik, salon hewan, jalan-jalan, atau permintaan rescue, Melania Mediawaty menawarkan jasa transportasi nyaman bagi anjing dan kucing. Dalam jasa pet transport ini, Melania membantu pet parents yang punya keterbatasan akses kendaraan, waktu, atau tidak bisa keluar rumah seperti di masa pandemi Covid-19 ini.

“Ini awal mulanya aku berani menjadi pet transport, tapi aku tidak ingin menjadi pet transport biasa,” kata Melania di Kompas, edisi Senin 13 April 2020.

Dalam jasanya, Melania tidak hanya menyediakan space untuk hewan peliharaan, tapi juga bagi pemiliknya. “Saya akan sangat senang kalau ada paw parents yang ikut mendampingi anak bulunya,” kata dia.

Tapi kalau tidak bisa, Melania pun tidak merasa keberatan. Dan dalam situasi ini, ia akan merekam penjelasan dokter hewan akan kondisi anjing atau kucing tersebut. “Prinsipnya, aku akan memediasi kebutuhan pemilik dan dokternya, termasuk racikan obat yang diperlukan anabul,” kata Melania. “Serasa mengurus anabulku sendiri. Jadi, saat diantar pulang ke pemiliknya, semua sudah harus terkesan beres.”

Jasa transportasi Melania ini tidak tertutup di kawasan Jakarta saja. Ia juga menerima jasa pengantaran anjing dan kucing ke luar kota. Untuk yang satu ini, ia menerapkan standar bila hewan yang akan diantar sudah memperoleh vaksin. Yakni dengan meminta sang empunya untuk menunjukkan buku vaksin anabulnya. 

Melania juga sangat ketat memeriksa kesehatan anjing atau kucing yang akan diantarkannya. Bila terindikasi sakit atau memiliki penyakit yang bisa menularkan hewan lain, ia pun akan menolak mengantarkannya.

“Saat mengantarkan kucing dan anjing, saya selalu penuhi kebutuhan makan, minum, pup, dan pee mereka dan laporkan ke pemiliknya,” kata Melania. “Dan yang pasti, saya menjaga agar mereka tidak stres selama perjalanan.”

Untuk menolong binatang peliharaan atau hewan jalanan sesungguhnya tidak harus mengeluarkan modal atau usaha besar. Misalnya saja, paw friends  bisa menyisihkan uang sekitar Rp 5 ribu, untuk membeli satu sachet makanan kucing buat si pus yang suka lewat di depan rumah. Dengan begitu, paw friends bisa menjadi pet rescuer, dan si pus pun tidak mati kelaparan.

 

Photo credit main image: MatanVizel / Pixabay

 

 

Profil Penulis

Cornila, ibu dari dua putri dan satu putra, yang juga sibuk sebagai parent dari dua kucing, dua kelinci, dua kura-kura brazil, dua hamster dan satu anaknya, dua ikan cupang, dua ikan mas, dan dua ikan manfish.

scroll to top