Laras Satwa Group, Membangun Bisnis Franchise dengan Menggandeng Sesama Dokter Hewan

Laras Satwa Group, Membangun Bisnis Franchise dengan Menggandeng Sesama Dokter Hewan

Posted on 11:54 - 17 Aug 2019
Zustina Priyatni Zustina Priyatni Editor

Dari sebuah klinik hewan di lokasi yang “kurang favorit” bahkan kerap dilanda banjir, drh Ady Sasmita membangun mimpi dan cita-citanya. Kini Laras Satwa Group yang dipimpinnya telah menaungi 25 outlet (pet clinic, pet shop, dan pet grooming) yang tersebar di Jakarta hingga Sumatera. 

Lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan di Universitas Syah Kuala, Banda Aceh, drh Ady langsung bekerja di sebuah breeding farm di Riau, Sumatera. Sayangnya, badai krisis moneter yang menerpa Indonesia pada 1998, memaksanya melepas pekerjaan tersebut. 

Kondisi itu justru membuat pria asal Payakumbuh, Sumatera Barat, ini berpikir. Ia merasa terdorong untuk menerapkan ilmunya dengan praktik sebagai dokter hewan. Jakarta pun ia pilih karena dirasa memiliki potensi pasar yang besar. 

Berbekal pinjaman modal 13 juta rupiah yang ia peroleh dari kerabatnya, tahun 1998 itulah ia membuka klinik praktik dokter hewan pertamanya di daerah Serpong, yang saat itu kondisinya masih relatif sepi. Di tempat yang tak terlalu strategis, drh Ady sempat terseok-seok untuk sekadar memenuhi kebutuhan dasarnya. Apalagi tak lama setelah itu ia membawa anak-istrinya untuk hidup di Jakarta. 

“Pernah, kami tidak tahu apa yang akan dimakan siang nanti. Uang di kantong tinggal 500 rupiah. Tapi Alhamdulillah, selalu ada rezeki yang datang untuk saya dan keluarga,” kenangnya. 

 

Menggalang Kepercayaan

Laras Satwa Group menginisiasi sistem bisnis waralaba, yang utamanya terdiri dari pet shop, pet clinic, dan pet grooming.
Laras Satwa Group menginisiasi sistem bisnis waralaba, yang utamanya terdiri dari pet shop, pet clinic, dan pet grooming.
Photo: paw Indonesia

Sukses membuka 25 outlet, tidak membuat drh Ady dan tim Laras Satwa Group (LSG) tinggi hati. Ia pun tak menutup mata ketika dua outlet di bawah naungannya harus gulung tikar. Kegagalan pada dua outlet ini justru ia jadikan sebuah pelajaran berharga. 

“Ternyata bukan sistem bisnis yang menentukan, tapi justru driver-nya,” ucap drh Ady mencoba mengambil hikmah. Mindset pelaku di dalam bisnis itulah yang akan menentukan sukses tidaknya sebuah usaha. Dengan alasan itu pula, ia kini lebih senang meningkatkan pola pikir mereka yang bekerja di bawah naungan Laras Satwa Group. 

Selama ini, bisa dibilang, salah satu tantangan dalam bisnisnya adalah mencari karyawan yang tepat. 

Untuk merekrut karyawan ia menentukan dua karakter penting yang harus mereka miliki. “Pertama harus sayang sama hewan. Kedua mindset atau pola pikir yang membuat dirinya terus berkembang,” ujarnya. 

Pada kenyataannya, organisasi maupun bisnis mampu bertumbuh tak hanya jika perusahaan memilih karyawan yang tepat, tapi juga memperlakukan karyawan sebagai stakeholder atau pemangku kepentingan yang menentukan masa depan bisnis mereka. 

Sebab itu, seperti dilansir dari Gallup, bisnis perlu fokus dalam kegiatan manajemen performa kerja karyawan. Ini bisa diterjemahkan dengan membuat ekspektasi kerja yang jelas, memberi arahan yang akurat, mendukung hubungan antar-karyawan yang positif.

Jika perusahaan berhasil melakukan hal ini, maka karyawan akan merasa terlibat dengan bisnis yang dilakukan perusahaan. Inilah yang akan membantu keberhasilan suatu bisnis. Hal ini telah dibuktikan oleh meta-analisis yang dilakukan oleh Gallup untuk melihat hubungan antara keterlibatan karyawan dengan keuntungan, produktivitas, retensi karyawan dan persepsi pelanggan terhadap sebuah bisnis atau unit kerja. 

Studi tersebut memperlihatkan hasil yang konsisten dengan penelitian-penelitian yang telah mereka lakukan sebelumnya, yang mengkonfirmasi keterkaitan antara kedua hal tersebut. Singkatnya, karyawan yang terlibat dengan bisnisnya, memberi hasil bisnis yang lebih baik. 

Menurut menurut pria yang juga akrab disapa Dok Ady ini, ada tiga mindset karyawan yang akan memengaruhi kesuksesan perusahaan, yaitu mindset kerja, karier, dan calling. Pada dasarnya, mindset kerja dan karier adalah motif ekstrinsik atau motivasi yang kemunculannya datang dari pihak luar. Dalam hal ini yaitu jabatan atau gaji tinggi. 

Sementara mindset calling adalah karyawan yang memiliki motivasi intrinsik atau dari dalam dirinya sendiri. Mereka yang sudah pada tahap ini melakukan pekerjaannya karena merasa dapat berekspresi dan bahagia saat melakukan pekerjaannya. Mindset inilah yang menurut Dok Ady idealnya dimiliki oleh karyawan. Saat sudah memiliki mindset ini, karyawan dapat bekerja secara autopilot. Mereka tahu apa yang harus dilakukan. “Karier tumbuh, finansial pun tumbuh.”

Tugas mengubah mindset tersebut dirasakan sebagai tantangan yang menyenangkan bagi Dok Ady. “Tidak gampang mengubah mindset. Tergantung banyak faktor di dalam dirinya, pengalaman-pengalaman pribadi, banyak hal…,” ucap penggemar kopi ini. 

drh Ady Sasmita dari Laras Satwa Group
drh Ady Sasmita, pendiri Laras Satwa Group.
Photo: paw Indonesia

Mengubah mindset ke arah yang positif bagi laju perusahaan adalah penting bagi drh Ady. Pasalnya, drive karyawan yang kurang justru berpotensi menimbulkan cost yang tinggi buat perusahaan, terutama dari kurang optimalnya kinerja mereka. 

Berbekal mengikuti berbagai seminar dan membaca buku manajemen, drh Ady belajar mengelola karyawan untuk memastikan kontribusi mereka tetap positif bagi perusahaan. Belakangan, ia juga mendalami ilmu hipnoterapi. 

 

Mengedepankan Servis

Sertifikat dan penghargaan memenuhi dinding kantor Pet Derm Clinic.
Beberapa sertifikat dan penghargaan memenuhi dinding kantor Pet Derm Clinic.
Photo: paw Indonesia

Berdiri sejak tahun 2000, LSG bisa dibilang memiliki keuntungan karena telah memulai bisnis lebih dulu. Di awal berdirinya, pet business memang belum semeriah saat ini. Menghadapi munculnya bisnis serupa, drh Ady tidak melihat hal tersebut sebagai sebuah persaingan. 

“Kami tidak melihat keluar (kompetitor, Red), tapi justru lebih memperkuat value internal. Kalau ternyata ada banyak bisnis serupa di sekitar bisnis kita, itu berarti daerah tersebut memiliki potensi yang besar,” ucap drh Ady yang memilih melihat persaingan dari sisi positif. 

Dengan langkah ini, drh Ady selalu memastikan apa yang ia tawarkan memang relevan dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Kemampuan melihat potensi inilah yang membuatnya selalu berusaha untuk berinovasi. Dengan kata lain, melihat kompetisi yang ada di sekitar, justru menjadi cara bagi LSG untuk mencari posisi yang berbeda dari servis yang sudah ada. 

 

Fokus ke Diferensiasi

Pet Derm Clinic, klinik spesialisasi kulit di Bumi Serpong Damai
Pet Derm Clinic, klinik spesialisasi kulit di Bumi Serpong Damai.
Photo: paw Indonesia

Diferensiasi ini pula yang menjadi langkah LSG selanjutnya dalam mengembangkan bisnis. Setelah sukses dengan bisnis pet grooming, pet shop, dan pet clinic, kini LSG mencoba mengembangkan servis ke bidang yang lebih khusus. Salah satunya membangun pet clinic yang khusus menangani penyakit kulit pada hewan. 

Pet Derm Clinic Laras Satwa yang digawangi oleh drh. Herisman Hernadi pun didirikan awal tahun ini. Klinik spesialis yang berlokasi di Bumi Serpong Damai ini merupakan yang pertama di Indonesia. 

Ke depannya, LSG berencana membuka klinik spesialis kucing dan dalam lima tahun ke depan akan membuka rumah sakit khusus hewan. “Cita-cita saya adalah seluruh dokter hewan di Indonesia ini berdaya dan berkolaborasi. Jangan sampai karena terlalu sibuk mengedepankan personal branding malah nggak ada kerjasama,” ujar peraih penghargaan Vet of the Year tahun 2006 ini. 

Yang jelas bagi Dok Ady, kepuasan batin merupakan metric yang lebih penting dalam menentukan sukses tidaknya sebuah usaha. “Walau tidak menjadi juara, kalau saya happy, bagi saya itu sudah sukses. Dan kalau saya merasa happy, saya akan menjalani usaha tanpa beban hingga akhirnya tujuan bisnis tercapai,” tekan Dok Ady. 

Tip Sukses Mengembangkan Bisnis ala Laras Group: 

  • Survei pasar untuk memastikan servis atau produk yang ditawarkan merupakan hal yang relevan dengan pasar yang disasar. 
  • Menjadikan karyawan sebagai stakeholder yang terlibat secara positif dengan bisnis. 
  • Membangun kepercayaan yang terus dipelihara dengan sesama rekan dokter melalui asosiasi ataupun organisasi. 
  • Mencari celah yang belum disentuh oleh bisnis sejenis, misalnya dengan membuka klinik spesialisasi. 
  • Terus berinovasi untuk memberikan servis terbaik bagi pelanggan. 

 

Profil Penulis
Zustina sudah yakin ingin jadi penulis sejak duduk di bangku SMP karena senang menulis diary. Saat SMP pula ia pertama kali diperbolehkan memelihara kucing. Alhasil, pada saat itu diarynya tak hanya diisi cerita soal gebetan, tapi juga cerita tentang kucing.
scroll to top