Cutie Cats Cafe, Kafe Kucing Pertama di Indonesia

Cutie Cats Cafe, Kafe Kucing Pertama di Indonesia

Posted on 11:02 - 12 Nov 2019
Zustina Priyatni Zustina Priyatni Editor

Sayang dengan kucing, bahkan passionate dengan segala sesuatu tentang kucing. Bisa dibilang itulah modal paling utama ketika Lia Kurtz dan sang suami Michael Kurtz memutuskan untuk mendirikan kafe kucing pertama di Jakarta, Cutie Cats Cafe. 

Dan passion itu datang dari hati. 

Suatu hari, pasangan suami istri ini menemukan seekor anak kucing terlantar di pinggir jalan, saat sedang berkendaraan di area Jakarta. Merasa kasihan, mereka pun membawa kucing kecil yang usianya masih dalam hitungan bulan tersebut ke rumah. Sampai dua tahun kemudian, kucing itu meninggal karena masalah pada struktur tulangnya. 

Bisa dibilang, itulah cinta pertama mereka dengan kucing. “Dia kucing yang manis dan sangat pengertian. Ya kita tahu kan, kucing itu sebenarnya makhluk yang agak egois, ya,” kenang Michael. Sejak saat itu, mereka memelihara lebih banyak kucing. 

Kenapa bukan anjing? “Tiap kucing memiliki karakter berbeda yang tidak hanya ditentukan oleh rasnya. Ini yang membuat mereka unik. Ada yang pemalu, ada yang terbuka. Bahkan ada juga yang narsis,” ucapnya sambil menunjuk kucing jenis Maine Coon berwarna oranye yang selama wawancara dengan tim paw squad tidak pernah jauh-jauh darinya. 

Kerap mengunjungi kafe kucing di beberapa negara

Pengunjung Cutie Cats Cafe, disapa kucing-kucing nan ramah.
Pengunjung Cutie Cats Cafe, disapa kucing-kucing nan ramah.
Photo Credit: Zustina Priyatni

Michael sendiri bukanlah seseorang yang memiliki pengalaman di bidang pet business. Meski begitu, rasa cintanya dengan kucing membuatnya kerap menyambangi beberapa kafe kucing di negara-negara yang ia kunjungi atau tinggali. 

Memiliki pekerjaan sebagai business consultant, Michael sempat tinggal di beberapa negara, sebut saja Jepang, Korea, Australia dan Swiss. 

Kafe kucing sendiri merupakan konsep yang sangat populer di Jepang. Di Tokyo saja paw friends dapat menemukan puluhan kafe kucing dengan beragam konsep yang unik. Maka tak heran jika mereka pun menjadikan kunjungan ke kafe kucing sebagai salah satu hal yang wajib dilakukan ketika tinggal di sana. 

Sebenarnya konsep kafe kucing pertama kali justru berkembang di Taiwan, pada 1998. Kafe kucing pertama di dunia berdiri di Taipei dengan nama Cat Flower Garden. Barulah ketika diperkenalkan ke Jepang, konsep ini menjadi populer, bahkan mendunia. Masyarakat Jepang memang tergila-gila dengan kucing dan konsep kafe unik. Kedua kombinasi inilah yang membuat konsep ini disambut hangat di Jepang. 

Michael dan Lia sangat menikmati waktu yang mereka habiskan di kafe kucing. Mereka menyukai konsep tersebut dan kemudian bertanya-tanya, apa jadinya kalau konsep ini dibawa ke Jakarta? 

Mewujudkan angan-angan

Dilengkapi rak dan jembatan untuk kucing yang gemar memanjat
Dilengkapi rak dan jembatan untuk kucing yang gemar memanjat.
Photo credit: Zustina Priyatni

Ternyata, bukan sekadar wishful thinking. Apa yang mereka angankan, perlahan mereka wujudkan saat akhirnya mereka kembali tinggal di Jakarta, 4 tahun lalu. Selain passion yang besar tentang kucing, mereka tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mendirikan kafe kucing pertama di Jakarta. 

Tentu saja, pengalaman mengunjungi kafe kucing di beberapa negara menjadi referensi mereka ketika mendirikan hal yang sama di Jakarta. “Saat itu kami ingin mendirikan tempat yang nyaman untuk kucing dan pengunjung kafe,” ucapnya. 

Kemang menjadi pilihan lokasi karena dekat dengan tempat tinggal mereka dan lingkungan yang cukup dinamis. Mereka pun menghubungi Indonesian Cat Association untuk mencari tahu regulasi seputar pendirian kafe kucing sekaligus menjalin jejaring dengan pemilik/pecinta kucing lainnya. Namun, ternyata di Indonesia belum ada peraturan spesifik mengenai hal ini.

Ketika membangun kafe kucing, Michael dan Lia menekankan pentingnya wellbeing penghuni utama kafe, alias kucing itu sendiri. “Interior kafe ini merupakan ide kami sendiri. Kafe ini adalah rumah mereka, jadi kami ingin make sure mereka nyaman di dalamnya. Kami baca banyak buku soal seperti apa rumah yang baik untuk kucing,” cerita Michael. 

Interior ruang Cutie Cats Cafe, Jakarta.
Interior ruang Cutie Cats Cafe, Jakarta. 
Photo credit: Zustina Priyatni

Dari banyak mencari informasi itulah, Michael menemukan bahwa kucing berpikir secara tiga dimensi. Sehingga selain membangun tempat bermain di ruang horisontal (area lantai), mereka pun menyediakan tempat bermain vertikal berupa jembatan dan rak-rak yang bisa dipanjat oleh kucing. 

Hiasan dan pernak-pernik bertema kucing pun ditambahkan ke dalam interior kafe untuk memberikan nuansa yang cute sekaligus hangat. Rumah-rumahan kayu dan scratch pole pun disediakan di sudut kafe. Aneka mainan selalu tersedia untuk digunakan oleh pengunjung sebagai sarana berinteraksi dengan kucing.

Michael dan Lia sengaja memilih menggunakan karpet untuk alas ruang kafe. Dengan cara ini, pengunjung tidak akan segan untuk bermain di lantai bersama para kucing. “Ini adalah cara terbaik bagi pengunjung untuk berinteraksi dengan kucing,” ucap Michael memberi tahu alasannya. 

Nama Cutie Cats Cafe dipilih karena terdengar lucu, mudah diingat, sekaligus mudah diucapkan oleh lidah orang Indonesia. “Kami punya beberapa pilihan nama lain, tapi nama Cutie Cats yang paling mudah diingat,” ujar Michael yang meresmikan berdirinya kafe ini pada tahun 2015. 

Menegakkan konsep Kafe Kucing dengan aturan ketat

Area counter dan kasir terpisah dari kafe
Area counter dan kasir terpisah dari kafe.
Photo credit: Zustina Priyatni

Cutie Cats Cafe adalah rumah bagi kurang lebih 15 ekor kucing yang terdiri dari 6-7 ras kucing. Setiap pengunjung yang datang ke kafe, ibaratnya mengunjungi rumah mereka. “Lebih mirip mini zoo ketimbang kafe,” jelas Michael. 

Meski menyediakan makanan dan minuman untuk pengunjung, Cutie Cats Cafe tidak menjual makanan atau minuman yang disukai para kucing. “Kami menghidangkan kopi, teh, cake. Yang jelas bukan makanan yang mengandung daging,” jelasnya lagi. 

Seperti halnya ketika mengunjungi mini zoo, ada aturan tertentu untuk para pengunjung. Misalnya saja, para pengunjung harus menghargai kucing, tidak berteriak, tidak berlarian, tidak menarik-narik ekor mereka, tidak memberinya makanan (kecuali yang ditawarkan dari kafe, berupa irisan dada ayam yang dimasak), tidak menggendong kucing, tidak memaksa kucing untuk bermain, serta tidak membangunkan kucing yang sedang tidur. 

Aturan ini pun dijelaskan kepada pengunjung sebelum mereka masuk ke area kucing. Ya, Cutie Cats Cafe memisahkan area counter tempat mereka memajang makanan dan minuman, dengan area tempat tinggal kucing. Di area kasir ini pengunjung diminta untuk menanggalkan sepatu dan mengganti dengan slipper. Di sini juga disediakan cairan antiseptik yang bisa digunakan sebelum dan sesudah pengunjung bermain ke dalam. 

Pemisahan dua area ini diharapkan dapat mengurangi risiko masuknya bakteri ataupun virus dari luar ke area tempat kucing-kucing tersebut bermukim. Cara ini memastikan kebersihan area kucing terpelihara dan mencegah kucing terjangkit penyakit yang tentunya akan berdampak pada biaya kesehatan mereka. 

Setiap pengunjung membayar entry fee sejumlah Rp50.000 di weekdays dan Rp75.000 pada akhir pekan. Saat ini Cutie Cats tidak membatasi usia pengunjung. Anak kecil pun boleh mengunjungi, tak terbatas usia. Namun tak sekali dua, mereka menemui pengunjung yang hanya ingin membayar entry fee untuk anaknya, sementara orang tuanya menunggu di luar, seolah ini tempat penitipan anak. Michael amat menyayangkan kesalahpahaman ini. Menurutnya, akan lebih baik jika anak kecil, khususnya balita, mendapat pengawasan dari orang dewasa. 

Konsep ini juga yang membedakan Cutie Cats Cafe dengan kafe sejenis yang mulai bermunculan. “Setahu saya, di tempat lain makanan yang disajikan lebih bervariasi. Begitupun dengan interiornya, lebih bernuansa restoran,” ucapnya. 

Membangun Pengunjung yang Loyal  

Caramello, kucing Maine Coon yang punya banyak penggemar
Caramello, kucing Maine Coon yang punya banyak ‘penggemar'.
Photo credit: Zustina Priyatni

Selama 3 tahun berdiri, Cutie Cats telah mengambil hati para pengunjung. Dan itulah yang dianggap sebuah kesuksesan bagi Michael. “Pengunjung yang pernah datang ke sini, kerap menanyakan kabar kucing-kucing yang mereka kenal. Bahkan datang lagi untuk mengecek kondisi mereka. Bagi saya itu sebuah penghargaan tersendiri.” 

Meski begitu, Michael selalu memastikan bahwa operasional kafe berjalan dengan baik. Kebersihan kucing merupakan yang utama. Bila satu kucing sakit, bisa-bisa menular ke kucing lain. Dapat dibayangkan biaya pengobatan yang harus dikeluarkan bila lebih dari lima kucing sakit secara bersamaan. 

Untuk itu, Michael memastikan kucing-kucingnya di-grooming secara teratur. Selain mandi secara teratur, kuku mereka selalu digunting, divaksinasi sesuai jadwal dan menerima makanan yang baik. 

Memastikan Turn Over Karyawan Rendah

Mereka yang sayang dengan kucing, akan merawatnya dengan baik. Prinsip itu pula yang diterapkan Michael dan Lia saat mencari karyawan yang bekerja di Cutie Cats Cafe. Perawatan yang baik akan membuat kucing sehat dan bahagia. 

Sehingga, memilih karyawan yang tepat merupakan kunci. Michael dan Lia menyeleksi karyawan dengan sangat hati-hati. Mereka memilih karyawan yang memang menyayangi kucing dan senang memeliharanya. 

Dengan cara ini, karyawan yang bekerja di Cutie Cats pun merasa senang. Bahkan ia kerap menerima tanggapan dari karyawan bahwa mereka tidak merasa seperti ‘bekerja’ karena menyukai apa yang mereka kerjakan di sana. 

Cara ini pun terbukti ampuh menekan turn over karyawan. Jarang sekali Michael menemukan karyawan yang tidak perform sampai ia harus menggantikan posisinya. Saat ini Cutie Cats Cafe memiliki satu orang karyawan tetap dan 2-3 karyawan part time.

Tahun ini, Cutie Cats berencana melakukan renovasi dan jika memungkinkan relokasi ke tempat yang lebih besar. Dengan lokasi saat ini, Michael mengaku kerap kewalahan di akhir pekan, saat pengunjung lebih banyak datang. “Agar tidak crowded, pengunjung harus antre untuk masuk.”

 

Berikut ini pesan Michael untuk paw friends yang ingin mendirikan bisnis serupa. 

  1. Harus lihat-lihat ke bisnis sejenis dan mencari best practices dari bisnis-bisnis yang telah beroperasi. 
  2. Passionate dengan kucing itu suatu keharusan. Bahkan ini modal yang paling penting. Dengan ini, pemilik usaha akan memastikan kesejahteraan kucing, yang akan berdampak baik pada kunjungan. 
  3. Harus fokus dengan bisnis seperti ini, jangan mencoba jadi petshop atau restoran. Sebab, nanti hal yang terpenting yaitu para kucing, malah tidak terperhatikan.

 

Photo credit foto utama: Zustina Priyatni

 

Profil Penulis


 Zustina sudah yakin ingin jadi penulis sejak duduk di bangku SMP karena senang menulis diary. Saat SMP pula ia pertama kali diperbolehkan memelihara kucing. Alhasil, pada saat itu diarynya tak hanya diisi cerita soal gebetan, tapi juga cerita tentang kucing.  

scroll to top