Inspirasi Entrepreneurship dari Petani

Inspirasi Entrepreneurship dari Petani

Posted on 16:32 - 10 Sep 2018
Ena Ratiyo Ena Ratiyo CEO & Founder paw Indonesia

Banyak orang yang berpikir, “Enak ya jadi pengusaha? Bisa punya banyak uang, waktu kerja fleksibel.” Umumnya mereka berpikir demikian karena belum mencicipi asam-garamnya menjadi pengusaha, sehingga pendapatnya didasarkan atas hasil akhir para pengusaha yang sudah sukses. Mereka tidak memahami atau mengalami prosesnya sejak awal, bagaimana jatuh bangunnya. Semua perusahaan megabisnis yang saat ini sukses diawali dari langkah demi langkah awal sebagai pengusaha kecil. 

Contohnya, siapa yang tak kenal Apple Inc., produsen produk iPhone, Macbook, dan lain-lain. Agustus 2018 ini, Apple Inc. menjadi perusahaan pertama di Amerika Serikat yang mencapai nilai USD 1 Triliun. Kalau kita baca sejarahnya, Steve Jobs dan Steve Wozniak, pendiri Apple Inc.  memulai bisnis mereka sebagai usaha kecil dari garasi rumah, hanya berdua saja. Sejarah perkembangan Apple Inc. juga diwarnai banyak pasang surut, termasuk beberapa produk yang gagal menggebrak pasar.

The first steps are the hardest. Titik awal itulah yang terasa paling berat. Merintis bisnis bukan hanya butuh modal, tetapi juga kerja keras. Banyak yang bertanya pada saya, apa teori yang harus dipelajari jika seseorang ingin merintis jejak sebagai pengusaha? Alih-alih berteori, saya lebih senang memilih analogi yang sederhana sebagai inspirasi. Saya jawab, “Belajarlah dari petani”.

 

Pilih bidang usaha yang sesuai dengan passion Anda.

Sebuah lahan non-produktif adalah aset. Si petani pemilik lahan dapat memilih apakah akan memanfaatkan lahan itu untuk pertanian, perkebunan, peternakan atau kolam ikan. Setiap pilihan tersebut memiliki potensi produksi dan keuntungan jika dikelola dengan baik, karena ada demand. Katakanlah, si pemilik lahan ini memutuskan untuk memanfaatkan lahannya untuk bertani padi karena ia menyukai pertanian padi, ditambah pula kesesuaian karakter lahan untuk ditanami padi. Disini passion berjodoh dengan aset.

Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang aktifitas sehari-harinya selaras dengan passion mereka cenderung lebih positive thinking dan menikmati hidup. Passion Anda juga akan menjadi penguat mental Anda menghadapi dinamika menjalankan usaha. Jadi, langkah pertama adalah kenali diri Anda sendiri dan apa passion Anda sesungguhnya. Jangan menjalankan usaha hanya sekedar ikut-ikutan trend.

 

Sebuah bisnis membutuhkan perencanaan, termasuk pengenalan potensi pasar yang Anda tuju

Bayangkan bagaimana saat ia memulai bisnisnya dari sebidang tanah yang belum produktif. Mungkin berupa lahan yang ditumbuhi pohon dan tanaman liar, yang harus dibersihkan dulu sebelum bisa diolah menjadi lahan pertanian. Ada proses untuk membersihkan lahan, membalik tanah, menilai apakah perlu ditambahkan zat hara buatan, membuat keputusan jenis tanaman apa yang tepat untuk ditanam di tanah tersebut, dan berbagai keputusan lainnya. Setelah diputuskan, maka dibuat pula perkiraan berapa banyak benih yang dapat ditanam di lahan tersebut, berapa budget yang diperlukan untuk mengelola lahan ini sampai panen.

Jika petani saja membuat rencana dan mengevaluasi potensi bisnis sebelum memulainya, maka Anda sebagai pengusaha profesional tentunya lebih mampu menyusun rencana bisnis sebelum Anda memutuskan untuk menjalankannya. Lakukan riset sederhana untuk memahami karakter dan kebutuhan target pasar Anda, ketahui apa pain points yang mereka hadapi, lalu kembangkan produk/jasa Anda untuk menjawab pain points tersebut. Buat rencana awal untuk menentukan strategi pemasaran, operasional dan keuangan bisnis Anda. Tidak perlu yang kompleks, tapi cukup sistematis untuk menggambarkan apa yang akan Anda lakukan.

 

Terus belajar untuk menambah ilmu dan meningkatkan kompetensi sebagai pengusaha

Membaca buku untuk menambah ilmu

Saat petani memilih benih yang akan dibeli untuk ditanam, ia harus punya pengetahuan untuk bisa memutuskan benih mana yang terbaik. Ia juga harus punya pengetahuan mengenai ilmu tanah, agar dapat memaksimalkan utilisasi dari tanah tersebut. Ia bahkan juga harus mengenal ilmu Kimia sedikit, untuk memahami mekanisme kerja pupuk yang berbeda, agar dapat memutuskan mana yang paling optimal. Dalam proses belajar itu tentunya ia membutuhkan orang lain, seperti penyuluh pertanian, orang yang lebih berpengalaman, dan juga antar sesama petani.

Ilmu yang perlu dipelajari dan kompetensi yang harus dikuasai oleh pengusaha itu cukup banyak, oleh karena itu teruslah belalar dan lebarkan network Anda agar dapat pula belajar dari pengalaman orang lain. Selalu sempatkan waktu untuk membaca buku atau artikel tentang bisnis, untuk memperkaya wawasan. Hadiri berbagai kegiatan edukatif seperti seminar, workshop atau training yang akan memperkaya ilmu Anda sekaligus membangun jejaring. Belajarlah dari kisah para pengusaha lain, baik yang sukses maupun yang gagal. Masing-masing akan memberi Anda inspirasi dan pelajaran yang bermakna. 

 

Menjalankan bisnis sendiri membutuhkan totalitas dan komitmen tinggi

Komitmen menjalankan bisnis

Kembali berkaca kepada petani, setelah benih ditanam, apakah sawah kemudian ditinggalkan begitu saja dan padi akan tumbuh sendiri? Tentu tidak. Para petani harus secara rutin mengecek kondisi tanaman setiap hari. Mereka mengamati perkembangan tanaman apakah sesuai dengan umurnya, apakah ada potensi hama dan penyakit, termasuk menjaga agar tidak dimakan hewan.

Bisnis harus ditelateni. Untuk itu Anda harus punya totalitas dalam merintis bisnis Anda, sebab perhatian yang terbagi justru memperlambat pengembangan bisnis. Menjalankan bisnis juga butuh komitmen tinggi untuk memperhatikan bisnis Anda, mendengarkan customer dan karyawan Anda, dan terus menerus melakukan perbaikan dengan cepat.  Ketelatenan petani mengecek sawahnya secara rutin sama halnya dengan evaluasi berkala yang harus dilakukan pengusaha dalam menjalankan bisnis, yang dapat membantu memberikan early warning bagi pengusaha.

 

Pilih sumber daya yang efisien & Kelola untuk memaksimalkan efektifitasnya

Sebagai petani pemilik lahan, mereka bisa memilih apakah akan menggarap sawah sendirian, atau mengajak beberapa orang sebagai buruh tani membantu berbagai aktifitas yang harus dilakukan. Tentu ada biayanya. Namun, jika dengan bantuan buruh tani proses menjadi lebih cepat, hasil panen menjadi lebih baik, mengapa tidak?

Begitu pula dengan sumber daya teknologi; mau membajak pakai tenaga sapi, atau dengan traktor? Kalau pakai traktor, harus punya traktor sendiri atau sewa saja? 

Pertimbangan memilih sumer daya harus berdasarkan efisiensi. Pilihan yang efisien bukanlah yang termurah, melainkan yang manfaatnya lebih besar dari biayanya. Setelah sumber daya dimiliki, seorang pengusaha yang cerdas ditantang untuk memaksimalkan pemanfaatannya, agar sumber daya tersebut menjadi efektif. Lagi-lagi, perlu terus belajar dan mengasah kompetensi dalam berbisnis, termasuk untuk memaksimalkan pengelolaan sumber daya.

 

Kompetisi akan selalu ada, pastikan saja Anda sudah melalukan yang terbaik untuk Customer Anda, setiap saat

Kalau kita pergi ke desa-desa agraris, kita melihat sawah terbentang seluas mata memandang. Hamparan sawah itu dimiliki oleh banyak orang, yang saling berbatas antara satu dengan yang lain. Kompetisi yang transparan. Petani A bisa melihat langsung bagaimana kondisi sawah Petani B. Apakah kemudian mereka berkompetisi saling menjatuhkan? Tidak. Mereka bahkan seringkali bekerjasama saat membajak atau panen, saling berbagi sumber daya. Karena memang harus menerima bahwa kompetisi akan selalu ada, tak perlu dihindari. 

Sebagai pengusaha, Anda jangan takut dengan kompetisi, karena sejatinya kompetisi akan selalu ada. Embrace it with confidence. Fokus pada keunggulan produk atau jasa bisnis Anda. Setiap pemain akan membentuk pasarnya masing-masing. 

Ide boleh sama, eksekusinya bisa berbeda, maka hasilnya akan berbeda. Jadi, sebagai pengusaha Anda harus tetap menjaga kepercayaan diri Anda, dan lakukan yang terbaik untuk Customer Anda, dimana saja dan kapan saja. Kalau Anda terpancing untuk perang harga, bisa jadi karena Anda gak pede dengan kualitas produk/jasa Anda sendiri.

 

Atur cashflow dengan bijak

Atur arus kas dan hutang

Pernah melihat lumbung padi di desa? Disitulah para petani menyimpan sebagian hasil panennya, baik berupa gabah atau sudah digiling menjadi beras. Mereka tidak menjual seluruh hasil panennya, karena menyadari bahwa tidak ada jaminan panen berikutnya pasti sukses. Mereka juga memisahkan berapa hasil penjualan padi yang bisa dinikmati untuk kehidupan keluarga dan berapa yang disiapkan untuk modal tanam musim berikutnya.

Kalau petani saja mampu mengelola cashflow, maka pengusaha yang bertitel tinggi harusnya lebih bisa lagi dong. Kunci pertama memulai bisnis dengan baik adalah memisahkan keuangan bisnis dengan keuangan pribadi. Siapkan dana darurat untuk kebutuhan pribadi, sebab di awal bisnis dijalankan biasanya belum untung (ingat, ada modal juga yang harus dikeluarkan!).

Untuk dapat melakukan pemisahan dengan baik, maka pembukuan uang masuk dan keluar harus dilakukan secara disiplin oleh pengusaha. Beberapa klien yang pernah konsultasi ke saya dengan kasus kegagalan bisnis, umumnya disebabkan karena tidak memisahkan keuangan pribadi dengan bisnis, bahkan tidak ada pembukuan. Semua tercampur, menciptakan ilusi sukses yang semu atau sebaliknya menyeret semua aset pribadi untuk menutupi kerugian bisnis.

 

Percaya pada kekuatan & kasih Tuhan

Kembali berkaca ke petani tadi, bayangkan ia sudah mengolah lahannya dengan baik, sudah memilih benih yang paling super, sudah merawat sawahnya dengan telaten, memastikan air, pupuk dan pembasmi hama sudah optimal, kini padinya menguning sempurna siap dipanen esok hari. Ia sudah membayangkan keuntungan yang akan diperoleh saat panen nanti. Tapi apakah ia bisa mengontrol semua itu pasti terjadi? Tentu tidak. Ada kekuasaan Yang Maha Kuasa yang mengatur alam semesta ini. Bisa saja malam ini terjadi angin topan yang bisa memporakporandakan sawah mereka, atau hujan deras yang dapat merendam seluruh tanaman padi siap panen itu. 

Petani, percaya pada kekuatan alam semesta dan kekuatan pengaturnya, Tuhan. Maka dalam menjalankan usahanya, mereka tak meninggalkan doa dan permohonan pada Tuhan untuk mengasihi mereka dan memberkati kerja keras mereka.

Ini adalah poin penting yang patut dijadikan inspirasi juga bagi pengusaha. Ada kekuatan “eksternal” di luar sana yang berperan juga menentukan kesuksesan bisnis Anda. Selalu positive thinking, maksimalkan kebaikan, sebab kita percaya bahwa kasih Tuhan berlimpah bagi orang-orang yang senantiasa mengupayakan kebaikan dalam dirinya.

 

—————————————————————————————————

 

Ena Ratiyo, MM

Pengusaha & konsultan bisnis dengan 18 tahun pengalaman sebagai corporate executive di beberapa perusahaan lokal & multinasional. Penerima penghargaan Indonesia Young Women Business Leader tahun 2013 dari SWA Media. Lulusan terbaik Magister Manajemen Prasetiya Mulya tahun 2010. Pengajar tidak tetap di ELI Prasetiya Mulya sejak tahun 2011. Saat ini tengah menempuh pendidikan Doktor di bidang Strategic Management di Universitas Indonesia. 

 

scroll to top