5 Penyakit Mematikan bagi Kucing

5 Penyakit Mematikan bagi Kucing

Posted on 10:17 - 11 Sep 2019
Cornila Desyana Cornila Desyana Penulis dan Penyuka Binatang

Pada artikel sebelumnya, paw Indonesia pernah berbagi cerita tentang anjing yang mengidap penyakit mematikan, seperti Latte yang mengidap penyakit jantung, juga kisah Cola, anjing yang sempat menghilang selama tiga tahun namun kembali ditemukan dan menderita tumor. Selain anjing, ternyata kucing juga bisa menderita penyakit mematikan. Tanpa diagnosis cepat dan pengobatan tepat, paw friends bisa kehilangan si teman berbulu.

Apa saja penyakit mematikan bagi kucing?

Penyakit ginjal

Menurut Dr. Celeste Clements di Pet Health Network, setidaknya satu dari tiga kucing didiagnosis menderita penyakit ginjal. Mereka yang menderita penyakit ini biasanya berusia di atas tujuh tahun dan memiliki bulu panjang, seperti Persia serta Anggora. Meski umumnya begitu, anak kucing yang baru lahir juga bisa mengalami sakit ginjal, karena adanya trauma, terinfeksi, atau terpapar racun.

Penyakit ginjal pada kucing itu sendiri terbagi dua jenis. Pertama, penyakit ginjal kronis yang terjadi ketika tingkat fungsi ginjal kucing menurun secara perlahan, selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Awalnya, kucing menunjukkan gejala ringan dan dehidrasi yang kemudian menjadi semakin parah seiring memburuknya kondisi ginjal si kucing.

Penyakit ginjal kronis ini pun tidak ada obatnya. Namun bila paw friends segera membawa kucing ke dokter hewan dan memberikan perawatan terbaik, itu bisa membantu kucing bertahan hidup.

Kedua, penyakit ginjal akut yang terjadi akibat luka atau cedera parah pada ginjal kucing. Ketika ini terjadi, kucing akan sangat kesakitan dan membuatnya berhenti memproduksi urine. 

“Gagal ginjal akut juga bisa terjadi bila kucing menelan zat beracun seperti cairan antibeku (antifreeze) atau pestisida, dan penyakit ini bisa menyebabkan kematian pada kucing,” tulis situs Policygenius.

Sementara menurut Dr. Roberta Relford, kepala petugas medis IDEXX Laboratories, Amerika Serikat, di situs Policy Genius, ada beberapa gejala yang terjadi bila kucing mengalami gagal ginjal. Di antaranya:

  1. Kehilangan nafsu makan selama beberapa hari.

  2. Kucing jadi sering minum

  3. Sering buang air kecil atau malah susah pipis

  4. Urine berdarah atau berwarna keruh

  5. Muntah

  6. Bulu kucing jadi terasa kering

  7. Kucing terlihat lesu dan depresi

  8. Mengalami penurunan berat badan

  9. Bau mulut

  10. Muncul penyakit radang mulut atau sariawan

  11. Kucing mengalami diare atau sembelit

  12. Jadi sering tidur ketimbang beraktivitas

Salah satu gejala ginjal pada kucing: sering tidur dan kurang beraktivitas.
Salah satu gejala penyakit ginjal pada kucing: sering tidur dan kurang beraktivitas. Photo Credit: Aleksandar Cvetanovic/Unsplash.

"Penyakit ginjal pada kucing itu ibarat penyakit jantung pada manusia, sebagai penyebab utama penderitaan dan kematian," kata Relford. "Sayangnya, kucing dengan penyakit ginjal jarang menunjukkan gejala yang kasat mata. Bahkan kebanyakan dari mereka baru menunjukkan gejala ketika penyakit sudah sangat parah.”

Itu sebabnya, paw friends perlu memeriksa kesehatan kucing ke dokter hewan, secara rutin dan berkala, setidaknya setahun sekali. Bila dokter mendiagnosis ada gangguan ginjal pada kucing, tindakan pertama yang mungkin dilakukan adalah tes darah dan urine.

“Jika kerusakan ginjal disebabkan oleh penyumbatan saluran kemih, kemungkinan dokter akan melakukan operasi,” kata Relford. “Namun bila masih tahap sulit buang air atau pipis, dokter akan memberikan terapi hidrasi, diet ramah ginjal, dan obat minum.”

Feline immunodeficiency virus (FIV)

Bagi kucing, FIV ibarat HIV pada manusia, yakni penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Virus ini sendiri ditularkan antar-kucing melalui gigitan akibat perkelahian yang agresif hingga menimbulkan luka yang cukup dalam atau diturunkan dari ibu ke anak kucing. 

Yang lebih fatal, FIV dikategorikan sebagai Lentivirus atau virus yang menyebar secara lambat. Artinya, kucing yang terinfeksi FIV akan hidup normal selama bertahun-tahun, namun sistem kekebalan tubuhnya perlahan melemah.

FIV bisa ditularkan atau diturunkan dari ibu ke anak kucing
FIV bisa ditularkan atau diturunkan dari ibu ke anak kucing. Photo Credit: Pexels

“Akibatnya, kucing jadi lebih sering mengalami infeksi sekunder atau efek samping,” tulis situs pets.webmd.com. “Seperti kulit kemerahan, peradangan pada gusi, mulut atau gigi, diare, pembengkakan getah bening, hingga luka yang tak kunjung sembuh.”

Bila kucing paw friends pernah mengalami luka gigitan akibat perkelahian dengan kucing liar, ada baiknya memantau kondisi kucing dari waktu ke waktu. Ketika ada gejala infeksi, segera bawa ke klinik hewan dan ceritakan semua gejala -- hingga yang terkecil -- serta kejadian perkelahian itu secara detail. 

“Dokter akan menguji darah kucing untuk mengetahui kondisi antibodi dalam darahnya,” tulis pets.webmd.com. “Namun tidak ada tes darah yang langsung menunjukkan akurat, karenanya dokter akan melakukan beberapa kali tes.”

Lalu bagaimana cara menyembuhkan FIV? Sayangnya, tidak ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini. Namun bila kucing positif mengidap FIV, biasanya dokter akan memberikan terapi obat untuk mengobati infeksi sekundernya, juga memberikan program menu diet sehat, dan obat untuk menambah kekebalan tubuhnya.

Leukemia

paw friends tentu tahu bila leukemia merupakan salah satu jenis penyakit kanker. Sama seperti pada manusia, leukemia yang dialami kucing juga menyerang sel darah putih. Akibatnya, virus ini akan menyebabkan anemia atau bahkan menimbulkan penyakit infeksi pada kucing.

“Sekitar 85% kucing yang menderita leukemia, selama tiga tahun, tidak berhasil bertahan hidup,” tulis situs pet.webmd.com.  Bahkan menurut situs Policygenius, beberapa kucing yang menjalani terapi kemoterapi tidak bertahan hidup lebih dari setahun. “Tapi ada juga kucing yang berhasil bertahan hidup, bahkan mampu melawan virus itu.”

Leukemia sendiri bisa ditularkan antar-kucing melalui air liur, darah, dan urine maupun feses. Misalnya saja antara kucing yang menyantap makanannya di satu mangkuk atau terkena gigitan akibat perkelahian dengan kucing liar.

Gigitan akibat perkelahian yang agresif bisa menularkan leukimia
Gigitan akibat perkelahian yang agresif bisa menularkan leukimia. Photo Credit: Aleksander Popovski

Kucing yang positif menderita leukemia akan mengalami beberapa gejala, seperti: 

  1. Gusi pucat

  2. Muncul warna kuning di mulut dan pada putih mata

  3. Pembesaran kelenjar getah bening

  4. Infeksi kandung kemih, kulit, atau pernapasan atas

  5. Penurunan berat badan dan / atau hilangnya nafsu makan

  6. Penyakit kulit

  7. Kelemahan dan kelesuan yang progresif

  8. Demam

  9. Diare

  10. Kesulitan bernapas

  11. Infertilitas atau masalah reproduksi

Ketika kucing positif terdiagnosis leukemia, itu tandanya paw friends harus memeriksakan kondisi kucing -- secara berkala -- ke klinik hewan. Dengan pemeriksaan rutin, dokter hewan bisa melakukan perawatan kesehatan preventif dan membantu melindungi kucing dari infeksi sekunder atau kemungkinan komplikasi.

Rabies

Mirip FIV dan leukemia, kucing bisa terjangkit rabies bila terkena gigitan atau air liur kucing yang menderita rabies. Ketika virus tersebut masuk ke dalam tubuh kucing, ia pun menyerang saraf, saraf tulang belakang, dan otak. 

Ketika kucing mengidap virus rabies, ia tidak akan langsung menunjukkan tanda-tanda atau gejala. Bahkan gejalanya bisa bervariasi dan butuh waktu berbulan-bulan untuk berkembang. Tapi umumnya ada beberapa tanda klasik rabies pada kucing, seperti:

  1. Perubahan perilaku -- termasuk agresi, hiperaktif, kegelisahan, dan kelesuan

  2. Peningkatan vokalisasi

  3. Hilangnya nafsu makan

  4. Mengalami disorientasi

  5. Menderita kelumpuhan ataupun kejang otot

  6. Mengalami demam

  7. Air liur berlebihan.

Rabies pada kucing bisa ditularkan ke manusia lewat gigitan
Rabies pada kucing bisa ditularkan ke manusia lewat gigitan. Photo Credit: Catster

 

Bila penyakit lain hanya bisa ditularkan ke sesama kucing, tidak demikian dengan rabies. Virus ini bisa ditularkan dari kucing ke manusia, lewat gigitan. "Kucing sering berhubungan dekat dengan manusia dan hewan liar, termasuk yang terutama menularkan rabies ke hewan lain atau ke manusia," menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Policygenius

Sayangnya, tidak ada perawatan untuk kucing setelah mereka terjangkit rabies. Hal ini tentu saja bisa berakibat fatal, seperti kematian mendadak. “Bahkan setiap tahun penyakit ini menyebabkan kematian lebih dari 50.000 manusia dan jutaan hewan di seluruh dunia,” tulis situs pets.webmd.com.

Cara terbaik untuk mencegah kucing dari rabies adalah memberikan vaksin dan menjaganya dari kehidupan binatang liar.

Cacing hati

Cacing hati atau heartworm adalah penyakit yang disebarkan oleh nyamuk dan menginfeksi jantung serta paru-paru kucing. American Heartworm Society, di Policygenius, mengatakan penyakit heartworm lebih sulit untuk dideteksi pada kucing daripada pada anjing.

Beberapa kucing yang menderita heartworm mengalami gejala seperti batuk, napas cepat dan pendek-pendek, sesak napas, nafsu makan menurun, lesu, penurunan berat badan, muntah, ataupun mengalami kejang.

Siklus penularan cacing hati dari nyamuk ke kucing
Siklus penularan cacing hati dari nyamuk ke kucing. Photo Credit: vcahospitals.com

“Pada kenyataannya, ada kasus kucing kolaps atau mati mendadak karena heartworm,” ungkap American Heartworm Society. 

Sayangnya, saat ini belum ada obat khusus untuk kucing yang menderita heartworm. Melarsomine, obat yang biasa digunakan untuk membunuh cacing dewasa pada anjing, ternyata akan menjadi racun bila diberikan pada kucing.

“Pencegahan adalah satu-satunya cara terbaik untuk melindungi kucing dari cacing hati,” tulis situs pet.webmd.com. “Berkonsultasi rutin dengan dokter hewan akan membantu mencegah kucing terpapar nyamuk pembawa benih cacing hati.”

Menjaga kesehatan hewan peliharaan

Denise Petryk, DVM dan dokter hewan di Trupanion, mengatakan beberapa penyakit pada kucing memang bisa berakibat fatal. Meski begitu, berbagai penyakit itu bisa dicegah dengan memeriksakan kesehatan kucing ke klinik hewan, secara rutin, setahun sekali.

“Ketika kucing sudah berusia tujuh tahun, penting juga meminta dokter hewan untuk melakukan tes urine dan darah kucing, karena mereka lebih rentan dengan penyakit mematikan, seperti ginjal atau hati,” ujar Petryk di Policygenius. “Jangan lupa meminta rekomendasi dokter hewan untuk diet sehat bagi kucing, dan membuat kucing tetap aktif.”

Profil Penulis
Cornila, ibu dari dua putri dan satu putra, yang juga sibuk sebagai parent dari dua kucing, dua kelinci, dua kura-kura brazil, dua hamster dan satu anaknya, dua ikan cupang, dua ikan mas, dan dua ikan manfish.
scroll to top